
SIDOARJO – Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak selalu harus digelar dengan acara besar. Di Warung Pojok (Warjok) 2, Jalan Cokronegoro, Sidoarjo, kemeriahan justru hadir lewat permainan sederhana. Puluhan warga mengikuti lomba remi yang digelar sepanjang Agustus.Bukan sekadar adu strategi menyusun kartu. Lomba remi di Warjok 2 itu juga menghadirkan hukuman unik bagi peserta yang kalah. Setiap peserta yang tumbang dalam satu sesi pertandingan harus rela wajahnya dicoret menggunakan bedak putih. Coretan tersebut menjadi penanda sekaligus bahan candaan sepanjang pertandingan. Semakin banyak kekalahan yang dialami, semakin penuh pula wajah peserta dengan coretan bedak.Suasana pertandingan pun berlangsung meriah. Gelak tawa kerap pecah ketika peserta harus menerima hukuman tersebut. Para pemain yang semula serius memikirkan strategi permainan akhirnya ikut tertawa melihat wajah rekannya yang penuh coretan. Kompetisi tersebut digelar khusus pada malam hari. Pesertanya berasal dari berbagai kalangan dan usia. Tidak ada batasan khusus bagi warga yang ingin ikut meramaikan lomba.
Sistem perlombaan dibuat dengan mengakumulasi nilai dari 10 pertandingan. Setiap sesi menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Konsistensi menjadi salah satu kunci untuk menjadi pemenang.Panitia juga menyiapkan hadiah bagi peserta dengan perolehan nilai terbaik. Selain mendapatkan kopi gratis, pemenang berkesempatan membawa pulang sejumlah suvenir menarik lainnya.Panitia lomba M. Chasanudin mengatakan, kegiatan tersebut sengaja dibuat sederhana agar bisa diikuti banyak kalangan. Tujuan utamanya bukan sekadar mencari siapa yang paling jago bermain remi, melainkan menciptakan suasana kebersamaan dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI.”Ini salah satu bentuk kegiatan seru-seruan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI,” kata Chasanudin.
Menurut dia, lomba tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi peserta maupun warga yang ikut menyaksikan. Permainan kartu yang biasanya berlangsung santai di warung, dikemas menjadi kompetisi dengan aturan sederhana dan hukuman yang mengundang tawa.
Chasanudin menambahkan, meski konsepnya sederhana, antusiasme peserta cukup tinggi. Puluhan orang ikut ambil bagian dalam pertandingan yang berlangsung selama Agustus tersebut.Tidak hanya peserta yang kalah yang menjadi pusat perhatian. Teman-teman mereka juga kerap menggoda peserta dengan wajah penuh bedak. Kondisi itu membuat suasana pertandingan semakin cair.”Bisa dilihat, yang wajahnya banyak coretan berarti yang sering kalah,” ujarnya disambut gelak tawa.
Bagi peserta, coretan bedak justru menjadi bagian paling menarik dari lomba. Kekalahan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, wajah penuh coretan menjadi bukti bahwa mereka ikut meramaikan kegiatan Agustusan.Konsep tersebut sekaligus membuat lomba remi terasa berbeda. Tidak ada tekanan berlebihan untuk menjadi juara. Peserta bisa bermain, bersaing, sekaligus bercanda bersama.Kegiatan berlangsung setiap malam selama bulan Agustus di Warjok 2 Jalan Cokronegoro. Peserta dari berbagai usia dan latar belakang dapat bergabung. Dengan begitu, lomba tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang berkumpul dan bersilaturahmi.
Lomba remi Warjok 2 menjadi salah satu contoh kecilnya. Kartu menjadi media kompetisi, bedak menjadi hukuman, sedangkan tawa menjadi bagian utama dari perayaan kemerdekaan.Di tengah suasana malam, peserta terus beradu strategi. Ada yang berhasil mengumpulkan poin, ada pula yang harus kembali menerima coretan bedak. Namun, pada akhirnya, semua pulang membawa cerita yang sama: ikut merayakan kemerdekaan dengan cara sederhana, tetapi tetap meriah. (*)













