SIDOARJO – Perusahaan kertas dan produk kemasan Tjiwi Kimia kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya kerja yang sehat melalui kegiatan sosialisasi Tuberkulosis (TBC) dan HIV-AIDS bagi para karyawan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam meningkatkan kesadaran pekerja terhadap pentingnya pencegahan penyakit menular di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari.
Sosialisasi tersebut diikuti oleh sejumlah karyawan dari bagian administrasi, komisariat SPSI Tjiwi Kimia, hingga perwakilan Safety and Security Representative (SSR). Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang cukup tinggi. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berdiskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar kesehatan.
Dalam kegiatan itu, perusahaan menghadirkan dokter perusahaan Tjiwi Kimia, dr. Astri Paramarthaputri, sebagai narasumber utama. Ia menjelaskan pentingnya pengetahuan dasar mengenai penyakit menular, terutama TBC yang hingga saat ini masih menjadi salah satu persoalan kesehatan serius di Indonesia.
Menurut dr. Astri, lingkungan kerja memiliki potensi menjadi tempat penyebaran penyakit apabila kesadaran kesehatan para pekerja masih rendah. Interaksi antarpegawai yang terjadi setiap hari membuat edukasi kesehatan menjadi hal penting agar risiko penularan dapat ditekan sejak dini.
Ia menjelaskan bahwa TBC merupakan penyakit menular yang umumnya menyerang paru-paru dan menyebar melalui percikan droplet ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Karena itu, pemahaman mengenai cara penularan sangat penting agar masyarakat tidak meremehkan penyakit tersebut.
“Pencegahan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk melindungi keluarga dan orang-orang di sekitar kita,” ujar dr. Astri saat memberikan materi kepada peserta sosialisasi.Dalam paparannya, dr. Astri juga mengingatkan pentingnya menjaga daya tahan tubuh sebagai langkah sederhana namun efektif untuk mencegah berbagai penyakit. Ia menyarankan para pekerja untuk rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, menjaga pola istirahat, serta berjemur di bawah sinar matahari pagi.
Menurutnya, gaya hidup sehat menjadi benteng utama agar tubuh tetap memiliki imunitas yang baik. Di tengah aktivitas kerja yang padat, kebiasaan menjaga kesehatan sering kali diabaikan oleh masyarakat.“Rajin olahraga dan berjemur pagi hari dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap sehat,” jelasnya.
Selain menjaga kebugaran tubuh, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Deteksi dini dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah penularan penyakit yang lebih luas. Dengan pemeriksaan berkala, penderita dapat segera memperoleh penanganan medis sehingga risiko komplikasi dan penyebaran penyakit bisa ditekan.
Kegiatan sosialisasi ini juga menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap program kesehatan nasional dalam pengendalian TBC. Selama ini, pemerintah terus mendorong berbagai pihak, termasuk perusahaan, agar aktif membangun kesadaran masyarakat mengenai bahaya penyakit menular.Manajemen Tjiwi Kimia menilai kesehatan pekerja merupakan faktor penting dalam mendukung produktivitas perusahaan. Lingkungan kerja yang sehat tidak hanya memberikan rasa aman bagi karyawan, tetapi juga membantu menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman dan produktif.
Karena itu, berbagai program kesehatan rutin terus dilakukan perusahaan sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan pekerja. Sosialisasi kesehatan dinilai menjadi salah satu langkah preventif yang efektif karena mampu meningkatkan pengetahuan sekaligus membangun kesadaran bersama.
Tidak hanya membahas TBC, dalam kesempatan tersebut dr. Astri juga memberikan edukasi mengenai HIV-AIDS. Ia menilai masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru terkait cara penularan HIV. Kesalahpahaman tersebut sering kali memunculkan stigma negatif terhadap penderita HIV-AIDS.Dalam penjelasannya, dr. Astri menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui sentuhan fisik biasa, berjabat tangan, berbagi makanan, penggunaan alat makan bersama, maupun air liur. Informasi ini penting disampaikan agar masyarakat tidak melakukan diskriminasi terhadap penderita HIV-AIDS.“Bersentuhan, berbagi makanan, atau menggunakan alat makan yang sama tidak menyebabkan penularan HIV-AIDS,” terangnya kepada peserta.
Ia menambahkan bahwa edukasi yang benar sangat penting untuk memutus stigma sosial terhadap penderita HIV-AIDS. Banyak penderita yang justru mengalami tekanan sosial akibat kurangnya pemahaman masyarakat mengenai penyakit tersebut.
Dalam pemaparannya, dr. Astri juga menjelaskan metode pencegahan HIV-AIDS melalui pendekatan ABCDE. Pendekatan tersebut meliputi Abstinence atau menghindari perilaku seksual berisiko, Be Faithful atau setia kepada satu pasangan, Condom atau penggunaan alat pelindung, Drug No atau menjauhi narkoba, serta Education atau meningkatkan edukasi dan pengetahuan tentang HIV-AIDS.
Menurutnya, langkah pencegahan akan lebih efektif apabila dibarengi dengan edukasi yang terus menerus. Pemahaman yang benar akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat sekaligus mengurangi munculnya stigma negatif.Para peserta tampak antusias mengikuti sesi diskusi terkait HIV-AIDS. Beberapa peserta juga mengajukan pertanyaan mengenai cara pencegahan serta pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Diskusi berlangsung terbuka dan komunikatif sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dipahami.
Kegiatan edukasi kesehatan seperti ini dinilai penting karena dunia kerja tidak hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga menyangkut kualitas hidup pekerja. Lingkungan kerja yang sehat dapat membantu menciptakan hubungan sosial yang lebih baik antarpegawai sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan bersama.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, Tjiwi Kimia berharap seluruh pekerja semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Kesadaran kolektif dianggap menjadi langkah awal dalam membangun tempat kerja yang aman, sehat, dan produktif.Perusahaan juga berharap budaya hidup sehat tidak hanya diterapkan di lingkungan kerja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit menular, risiko penyebaran penyakit diharapkan dapat ditekan secara lebih efektif.Kegiatan semacam ini rencananya akan terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung kesehatan pekerja. Selain meningkatkan pengetahuan, sosialisasi kesehatan juga menjadi sarana membangun kepedulian sosial dan budaya hidup sehat di tengah masyarakat. (*)













