SIDOARJO – Forum para aktivis yang tergabung dalam Sidoarjo for Gress (FoR Gress) terus menegaskan komitmennya menjaga nalar publik di tengah riuh politik lokal. Jumat malam (24/10), mereka menggelar Forum Group Discussion (FGD) Seri ke-3 di Li Masan Kopi, Desa Sidodadi, Kecamatan Candi.
Diskusi bertema “Membaca Sidoarjo: Konflik Elite, Budaya Gaduh, dan Jalan Perbaikan Tata Kelola Daerah” itu diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan: akademisi, pegiat pendidikan, kebudayaan, sejarah, jurnalis, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat. Selama 3,5 jam, mereka berdiskusi tentang arah demokrasi dan peran masyarakat sipil di Kabupaten Sidoarjo.
Sebagai pemantik, pemerhati kebijakan publik Badrus Zaman atau Cak Sudrab mengulas topik “Dari Konflik Elite ke Masyarakat Epistemik.” Ia menilai konflik elite di Sidoarjo bukan sekadar drama politik, melainkan sudah mengganggu layanan publik. “Tata kelola pemerintahan jadi lemah, transparansi rendah, dan partisipasi publik seringkali hanya simbolik. Masyarakatlah yang menanggung akibatnya,” tegasnya.
Menurut Badrus, lemahnya kapasitas civil society memperparah keadaan. Banyak kelompok masyarakat sipil masih reaktif, emosional, dan minim basis data serta metodologi. Ia mendorong mereka bertransformasi dari “suara yang marah” menjadi “pikiran yang dihormati.”“Civil society harus jadi komunitas epistemik, penghasil data dan gagasan yang kredibel. Demokrasi lokal tak lahir dari dekrit elite, tapi dari masyarakat yang cerdas dan berintegritas,” ujarnya.
FGD tetap berlangsung hangat meski hujan mengguyur. Para peserta sepakat pentingnya memperkuat budaya politik dialogis, memperbaiki tata kelola pemerintahan, dan mendorong partisipasi publik agar konflik elite tidak lagi menghambat pelayanan dan pembangunan.
Menutup sesi, FoR Gress mengumumkan FGD ke-4 akan mengangkat tema “Menyoroti Pendidikan di Sidoarjo” sebagai kelanjutan upaya memperluas ruang dialog publik yang sehat dan berorientasi masa depan.
Founder Cepad (Center for Participatory and Development) Kasmuin menambahkan, Sidoarjo seharusnya tidak hanya ramai dengan baliho dan proyek, tetapi juga hidup oleh gagasan dan perbincangan yang elegan. “FoR Gress akan terus menghadirkan ruang diskusi yang terbuka dan reflektif agar Sidoarjo tidak kehilangan akal sehat di tengah bisingnya politik lokal,” tandasnya. (Afeksi.com)














