Oleh: Rafif Aqiilah Putra Tajuddin
*Mahasiswa Internasional Universitas Airlangga, Jurusan Ekonomi Islam*
Akhir-akhir ini banyak berita yang membahas tentang maraknya kasus depresi di kalangan generasi muda atau yang tergolong dalam gen Z. Organisasi kesehatan dunia yakni World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kasus anak muda depresi meningkat secara drastis dalam tahun terakhir. Dikutip dari jamma network “Depression and Anxiety Among US Children and Young Adults” anak di amerika serikat berumur 3 – 17 tahun mengalami penaikan depresi mulai dari 3.1% di 2016 menjadi 30% di 2020. Alasan seperti tekanan sosial, ekonomi yang tak stabil, ekspektasi keluarga, sosial media, dan masalah politik global membuat banyak anak generasi muda mengalami masalah psikologi dan emosi.
Dengan banyaknya pembahasan tentang kesehatan mental membuat pandangan generasi muda melebar, sehingga banyak anak muda yang mengungkapkan perasaan mereka, tetapi terkadang mereka melakukanya dengan memakai bahasa kesehatan mental yang disalah gunakan maupun disalah pahami.
Meningkatnya krisis kesehatan mentalPresentasi dari depresi akut digolongan remaja dan dewasa meningkat dan menurut ahli seperti youth future dalam artikel “A major new Youth Futures report highlights financial insecurity, deteriorating sleep quality, social media use and cuts to children’s and youth services as the leading factors contributing to the recent alarming decline in mental health among young people in England.” dan MDPI dalam artikel “Social Media Use and Depression in Adolescents: A Scoping Review” berikut adalah beberapa faktornya: Tekanan digital dan sosial media komparasi konstan dan persona palsu online dapat meningkatkan rasa kesepian, tidak percaya diri, dan ekspektasi yang tidak realistis. Selain itu dari dunia nyata ketakutan akan akademik dan profesi ekonomi yang tidak stabil dengan tingginya kompetisi membuat tingginya ketakutan akan kegagalan. Stres dunia juga berkontribusi dengan alasan seperti perubahan iklim, konflik politik, dan perubahan sosial yang membuat ketidak pastian. Setelah itu isolasi sosial, meskipun anak muda terkoneksi secara digital tetapi banyak yang merasakan perasaan yang tidak terhubung dengan siapapun.
Depresi bukan sekedar rasa sedih ataupun stres ringan, depresi akut dapat mengganggu tidur, makan, motivasi, konsentrasi, relasi, dan kehidupan sehari hari. Bagi banyak anak muda ini adalah situasi serius yang membutuhkan bantuan profesional.Salah penggunaan kata “Depresi” Dikarenakan bahasa kesehatan mental mulai merambah menjadi lebih umum, kosakata seperti depresi, cemas, atau trauma sangat mudah untuk diucapkan. Bukan berarti bahwa mereka itu berbohong tetapi ini membuktikan bahwa:Diagnosa mandiri tanpa pemahaman: banyak anak muda mengatakan “depresi” untuk mengungkapkan kesedihan sehari-hari yang normal dalam kehidupan. Mencari perhatian dan validasi: di era budaya digital dimana kesusahan mendapat support sosial, sehingga beberapa orang melebih-lebihkan demi atensi dan validasi. Kurangnya akses ke profesional: beberapa memang merasakan gejala depresi tetapi kurangnya akses ke ranah profesional sehingga membuat mereka asal label. Budaya normalisasi akan mengatakan depresi: mengatakan bahwa “aku depresi” dapat berarti mengekspresikan stres normal daripada depresi akut serius. Salah penggunaan ini membuat hilangnya keseriusan dari kata “depresi”. Hal ini membuat kita lebih sulit dalam menangani seseorang yang dengan nyata mengalami gejala depresi. Kenapa seseorang asal mengeklaim bahwa dirinya depresi. Ketika seseorang dengan asal menyebut depresi dan berlebih-lebihan, banyak alasan yang bisa disebut:Keinginan mencari empati dan perhatian karena kesepian, ingin merasa masuk ke dalam sebuah golongan atau komunitas. Salah penggunaan kata “depresi”, Kurangnya edukasi tentang kesehatan mental dan masih banyak yang lain. dengan kesalahan ini bukan berarti kita dapat untuk menghujat mereka atas kesalahan tersebut.
Kebanyakan akar masalah dari kesalahan tersebut adalah masalah emosional dan kebutuhan akan bercerita tentang masalah hidup, tanpa keinginan untuk berbohong. Untuk menyelesaikan masalah ini ada dua hal yang harus dilakukan secara bersamaan:Serius terhadap depresi dengan memberikan dukungan seperti akses, perawatan, dan edukasi.Membuat sosialisasi tentang literasi kesehatan mental dan penggunaan kata yang tepat.
Dengan menggunakan pendekatan ini krisis dan kebingungan dapat teratasi karena yang kita lakukan bukan menghakimi tetapi mendukung generasi muda untuk hidup lebih sehat dan terinformasi akan percakapan tentang kesehatan mental. (*)














